Kontroversi Halal Haram Investasi di Pasar Modal #4


Sebelumnya: Mengapa Harus Berinvestasi

Tak perlu meraih gelar sarjana ekonomi untuk mengetahui fakta bahwa semua perusahaan membutuhkan modal. Jangankan perusahaan, perorangan saja tak bisa lepas dari modal.

To do point saja. Banyak cara yang ditempuh perusahaan untuk mengumpulkan modal. Salah satunya dengan menjadikan perusahaan tersebut sebagai perusahaan publik. Dengan demikian perusahaan  mendapat modal segar dari masyarakat/investor melalui penjualan saham di bursa efek.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Juni 2017, investor berkebangsaan Indonesia hanya berjumlah 1.000.289 jiwa dari keseluruhan WNI (260 juta), artinya jumlah investor lokal tak sampai 0.5% dari total WNI. Menyedihkan.

Bagaimana mungkin investor lokal yang jumlahnya hanya 0.5% itu  sanggup membiayai semua perusahaan di Indonesia?. Jika investor lokal tak bisa diandalkan, tak ada cara selain menjual perusahaan lokal kepada investor asing.

Anehnya, ketika “investor asing” berbondong-bondong menanamkan modal, ormas-ormas tertentu langsung kebakaran jenggot. Mereka berharap pemerintah mengambil alih semua perusahaan, tanpa ada niat  menjadi investor lokal.

Sungguh masuk akal jika orang Indenesia takut-takut-tapi penasaran dengan pasar modal. Status Indonesia sebagai penganut agama Islam terbesar dunia menyumbangkan banyak pemikiran bertolak belakang dengan sistem perekonomian barat.

Saya tidak menuding Islam yang menyebabkan minimnya jumlah investor lokal meski Agama mayoritas berpengaruh besar. Saya tegaskan kembali, “Bukan” Islam yang menyebabkan minimnya jumlah investor lokal. Sebab MUI tidak pernah melarang umat Islam berinvestasi di Pasar Modal.

Saya tak ingin berdebat lebih lanjut soal etika teologis, sebab MUI sudah lebih dahulu memperdebatkannya dan mendapat kesmipulan. Berikut 14 Fatwa MUI mengenai pasar Modal.

Silahkan dibaca dengan seksama dan sampai bertemu di artikel berikutnya.

(Bersambung)